| Oleh : Yoga Padma Wanny |
Dengan semakin terbukanya masyarakat kita terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, berbagai istilah-istilah berbau “sains” semakin sering terdengar di kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah Intelligence Quotient atau IQ yang tampaknya semakin populer untuk menentukan kualitas kecerdasan seseorang. 

Teman Wiloka pasti pernah mendengar istilah IQ kan? Semenjak pertama kali diucapkan oleh seorang psikolog Jerman, William Stern, pada tahun 1912, istilah ini berkembang sangat pesat sampai sekarang. IQ banyak dipakai sebagai alat seleksi baik bagi penerimaan karyawan, mahasiswa, maupun menjadi “label” kecerdasan anak-anak. Saking terkenalnya istilah ini, sekarang banyak sekali beredar tes-tes IQ di internet. Padahal tes IQ tidaklah cukup untuk menilai keseluruhan dari kecerdasan maupun kemampuan seseorang. Apalagi jika skor IQ digunakan menjadi prediksi tunggal keberhasilan buah hati dalam kegiatan akademiknya, tentu akan menghasilkan prediksi yang kurang akurat dan merugikan banyak pihak.

Berangkat dari keresahan ini, banyak ilmuwan yang berusaha menemukan aspek kecerdasan lain yang mampu memprediksi keberhasilan seorang anak dalam dunia akademik. Salah satu penelitian berhasil membuktikan bahwa ada aspek lain yang lebih baik dibandingkan IQ, yaitu working memory. Secara singkat, working memory adalah kemampuan manusia untuk mengolah informasi di dalam pikirannya. 

Nah, misalkan Teman Wiloka mencoba untuk menyelesaikan sebuah soal perkalian tanpa mencatatnya di buku atau menggunakan alat bantu lainnya, maka Teman Wiloka sedang menggunakan working memory untuk menghitung. Atau ketika seorang anak sedang mencatat hal-hal yang didikte oleh gurunya, maka anak tersebut menggunakan working memory-nya.

Studi yang dilakukan oleh Alloway ini menemukan hubungan antara keberhasilan akademik anak berusia 5 tahun dengan working memory. Jika dibandingkan dengan IQ, maka working memory memiliki hubungan yang lebih tinggi dengan nilai akademik. Bahkan dampak working memory yang optimal akan lebih terlihat untuk anak-anak, sehingga menambah keuntungan latihan working memory pada anak.   

Skor IQ yang tinggi pada buah hati, tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi orangtua. Akan tetapi kita tetap perlu mengingat bahwa pencapaian buah hati tidak hanya ditentukan oleh skor IQ saja. Kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, perencanaan, dan berimajinasi pasti akan lebih membantunya menatap masa depan yang cerah.

Sumber :
Alloway, T. P. (2010). Working memory is a better predictor of academic success than IQ. Diakses dari https://www.psychologytoday.com
/intl/blog/keep-it-in-mind/201012/working-memory-is-better-predictor-academic-success-iq
Alloway, T. P. & Alloway, R. G. (2009). Investigating the predictive roles of working memory and IQ in academic attaintment. Journal of Experimental Child Psychology, (106), 20-29. doi:10.1016/j.jecp.2009.11.003

0 Comments

Leave a Reply