Oleh: Agnes Angelina Paramita

Mendekati hari pernikahan, tidak jarang  calon pengantin mencemaskan banyak hal, seperti kelancaran pelaksanaan pernikahan, pembagian tugas rumah tangga, perbedaan kebiasaan dengan pasangan, hingga apakah pasangan kita sudah merupakan orang yang tepat atau bukan. Apakah teman Wiloka pernah merasakan atau mengetahui orang lain merasakan kecemasan tersebut? Apakah kecemasan tersebut normal? Yuk, kita simak pembahasan berikut ini!

Akar dari perasaan cemas

Craig dkk. (2000) mendefinisikan perasaan cemas sebagai respon umum terhadap ancaman yang tidak diketahui atau belum pasti terjadi, sedangkan kerabat dari perasaan cemas–yaitu perasaan takut–merupakan respon terhadap ancaman eksternal yang diketahui keberadaannya secara nyata. Grupe dan Nitschke (2013) mengemukakan bahwa akar dari perasaan cemas adalah ketidakmampuan kita untuk menghindari atau mengurangi dampak yang mungkin muncul dari ancaman yang bersifat tidak pasti. Dengan demikian, rasa cemas berkaitan dengan situasi ketidakpastian.

Menaiki tangga kehidupan baru

Saat akan menikah, kita dihadapkan pada situasi yang serba tidak pasti, mulai dari pelaksanaan hari pernikahan sampai masa depan kehidupan berumah tangga. Semakin besar dan berdampak situasi ketidakpastian, semakin kita merasa cemas. Pernikahan menandai perubahan signifikan yang terjadi pada kehidupan manusia, dari seseorang yang tadinya hidup bersama orang tua menjadi bersama pasangan atau dari yang tadinya menafkahi diri sendiri, menjadi menafkahi anggota keluarga. Melihat besarnya dampak dari perubahan tersebut, perasaan cemas sebelum menikah merupakan hal yang normal untuk dirasakan.

Kecemasan tidak selalu buruk

Rasa cemas merupakan sinyal yang dikirimkan untuk otak sebagai tanda bahwa kita perlu mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi (Gilbert, 2006, dalam Grupe dan Nitschke, 2013). Perasaan cemas memang membuat kita tidak nyaman. Respon ketidaknyamanan  yang muncul dapat berupa rasa lelah, dingin, gemetar, nyeri otot, pusing, detak jantung meningkat, hingga sakit perut (Fairview, n.d.). Permasalahannya adalah ketika cemas, tidak jarang kita terus menunda dan menghindari pekerjaan agar kita tidak merasakan respon ketidaknyamanan tersebut (seperti menunda mempersiapkan kebutuhan pernikahan). Namun, menunda atau menghindari pekerjaan hanya mampu menghilangkan secara sementara perasaan tidak nyaman tersebut. Rasa tidak nyaman tersebut akan muncul kembali ketika kita diingatkan pada pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Pada penelitian yang dilaksanakan Universitas Rochester, Knispel (2021) menemukan bahwa para peneliti melatih individu remaja dan dewasa muda untuk memandang rasa cemas sebagai sebuah alat untuk mempersiapkan diri alih-alih sebagai hambatan. Nah teman Wiloka, kita dapat belajar memanfaatkan rasa cemas tersebut sebagai pendorong dan pengingat kita untuk mempersiapkan diri–baik secara materiil maupun mental–dengan matang sebelum menikah!

 

Ketika rasa cemas terus-menerus datang meskipun segala hal telah dipersiapkan dan mengganggu produktivitas kalian, teman-teman Wiloka sangat boleh untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental lho, seperti konselor dan psikolog. Semangat menghadapi masa depan, teman-teman Wiloka!

 

Referensi:

Craig, K. J., Brown, K. J., dan Baum, A. (2000). Environmental Factors in Etiology of Anxiety. Dalam Bloom, F. E. dan Kupfer, D. J. (Eds.), Psychopharmacology: the Fourth Generation of Progress (pp. 1325–1339). Raven Press.

Fairview. (n.d.). Your Body’s Response to Anxiety. https://www.fairview.org/patient-education/82144

Grupe, D. W., dan Nitschke, J. B. (2013). Uncertainty and Anticipation in Anxiety. Natural Reviews Neuroscience, 14(7), 488–501. https://doi.org/10.1038/nrn3524

Knispel, S. (2021, September 14). Stress response doesn’t have to be bad. Here’s how to reframe it. University of Rochester. https://www.rochester.edu/newscenter/good-stress-response-benefits-488912/


0 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: